.: Selamat Datang :. [bagian 'pribadi' dari http://samsul-arifin.math.web.id]

[bagian "pribadi" dari http://samsul-arifin.math.web.id/]

Ketika KB Belum Berhasil di Indonesia

tinggalkan komentar »

Di sela-sela jam mengajar di SMA Vidatra hari ini, aku ingin sekali menulis. Baru saja aku membaca artikel yang sangat bagus, baik untuk Anda baca sepertinya, tentang kegagalan program KB di India dulu. Aku sangat tertarik dengan hal-hal berbau KB saat ini, dan entah kenapa aku merasa menjadi pejuang KB yang cukup militan, karena justru mungkin karena aku dilahirkan dari keluarga yang buta dan tidak setuju dengan KB. Silakan dibaca terlebih dahulu.

Ketika KB Gagal di India

aku2

Alkisah di sekitar tahun 1950an, sekelompok sukarelawan internasional berusaha membantu pemerintah India mengendalikan jumlah penduduknya dengan memperkenalkan keluarga berencana (KB). Dengan dedikasi yang tinggi, mereka mendistribusikan alat-alat kontrasepsi dan informasi cara penggunaannya. Namun, angka kelahiran di India tidak terpengaruh. Para sukarelawan serta-merta menyayangkan sikap masa bodoh para penduduk India dan menyalahkan sikap mereka yang irasional.

Seorang konsultan ternama kemudian diundang untuk membantu. Setelah mendengarkan keluh-kesah para sukarelawan tersebut, sang konsultan meminta mereka untuk tidak menyalahkan orang-orang India tersebut terlebih dahulu. Asumsi bahwa orang-orang India tidak perduli dengan KB bisa jadi adalah asumsi yang salah. Soalnya, bila orang-orang India tidak perduli masalah KB, mereka bisa saja memiliki 15-20 orang anak, sesuai dengan rata-rata jumlah usia produktif wanita. Tapi kenyatannya, jumlah rata-rata anak per keluarga berkisar di angka 4-5. Angka tersebut mencerminkan adanya upaya keluarga India untuk mengendalikan jumlah anak pada kisaran tersebut. Yang menjadi pertanyaan: Mengapa 4-5?

Untuk mengetahui alasan tersebut, sang konsultan menyarankan para sukarelawan tersebut mengadakan penyelidikan dengan mengasumsikan orang-orang India tersebut bertindak rasional dalam menentukan jumlah anak tersebut. Para sukarelawan tersebut masih tidak goyah dengan pendapat mereka semula. Mereka menolak menyelidiki. Orang-orang India itu tidak mungkin bersikap rasional. Akhirnya, sang konsultan mengadakan penyelidikan sendiri.

Dan inilah hasilnya:

Ternyata di India tidak ada sistem jaminan sosial hari tua. Para pekerja juga dipensiunkan secara dini. Karena itu, pada saat memasuki usia paruh baya, mereka harus mengandalkan pendapatan dari anak-anaknya. Menurut perhitungan mereka, pendapatan satu orang cukup untuk menyokong dua orang; dan karena itu, mereka butuh setidaknya dua orang anak untuk menyokong hidup kedua orang tuanya. Selain itu, dalam masyarakat India yang patriakis, umumnya yang bekerja adalah kaum pria sedangkan kaum wanita biasanya menjadi ibu rumah tangga. Anak perempuan yang sudah menikah juga bukan milik keluarga lagi. Karena kemungkinan melahirkan anak lelaki dan perempuan adalah 50-50, secara statistik setiap keluarga butuh rata-rata empat orang anak untuk mendapatkan dua anak lelaki yang mampu menyediakan jaminan hari tua. Dan tingginya angka kematian bayi di India waktu itu, menyebabkan kadang-kadang mereka membutuhkan asuransi dalam wujud anak kelima untuk memastikan setidaknya ada dua orang anak lelaki yang bisa hidup sehat sampai mencapai usia dewasa. Dari sanalah didapat jumlah rata-rata anak 4-5 per keluarga.

Untuk menguji apakah kesimpulan tersebut benar, sang konsultan melihat keluarga yang hanya memiliki kurang dari empat orang anak. Keluarga-keluarga tersebut ternyata sudah memiliki 2-3 orang anak lelaki sehingga mereka tidak perlu melahirkan lebih banyak keturunan lagi. Kesimpulan sang konsultan: Orang-orang India itu ternyata lebih cerdas dan rasional daripada yang dikira para sukarelawan. Dalam kesederhanaannya, mereka mampu menciptakan sistem jaminan sosial yang sesuai dengan konteks India saat itu. Sementara para sukarelawan itu justru yang bertindak irasional dengan memaksakan pola pikir dari negara asal mereka (yang memiliki jaminan sosial hari tua) tanpa memperhatikan perbedaan konteks yang penting.

Setelah mengetahui akar permasalahannya, sang konsultan mengajukan alternatif solusi yang lebih cerdas: perpanjang usia pensiun. Memang usia pensiun tersebut bukanlah satu-satunya faktor, namun jelas merupakan faktor yang sangat penting. Kadang kita memang sering menyalahkan pihak lain bila solusi yang kita tawarkan tidak berhasil menyelesaikan masalah. Alangkah baiknya bila cerita ini bisa memberi kita pandangan lain: Mungkin yang salah adalah cara pandang kita, bukan pihak lain. Pandangan yang sama pernah diberikan Stephen Covey dalam kebiasaan ke-5 dari 7 Kebiasaan Efektif yang diperkenalkan beliau: Seek first to understand, then to be understood.

aku2

Hanya dengan mengambil tanggung jawab ke atas pundak kita, kita bisa belajar dan mencari alternatif solusi yang lebih baik. Konflik-konflik yang terjadi di sekitar kita pasti akan berkurang bila kita mampu mengadopsi cara pikir tersebut. Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan produk baru; atau calon wiraswasta yang ingin membuka usaha baru; atau atasan yang memiliki bawahan bermasalah (atau orang tua dengan anaknya), ada baiknya mengadopsi cara pikir sang konsultan. Buanglah jauh-jauh terlebih dahulu asumsi-asumsi Anda. Carilah fakta seobyektif mungkin. Tanyalah langsung pihak lain tersebut: Apa alasan mereka? Apa yang benar-benar mereka butuhkan? Apa saja kebiasaan-kebiasaan dan cara berpikir mereka? Apa alasan mereka untuk menerima solusi Anda? Apa pula alasan mereka untuk menolak solusi Anda? Apa hambatan yang harus mereka hadapi? Jangan langsung memaksakan solusi Anda hanya karena menurut Anda, solusi Anda paling bagus.

Yang penting adalah menurut mereka, bukan menurut Anda.

sumber: itpin.com

aku2

Sebelumnya mohon dimaafkan karena aku menampilkan seluruh artikel tersebut. Aku hanya ingin Anda tidak membacanya terpotong-potong. Lantas apa hubungannya dengan negara kita, Indonesia? Sebelumnya mungkin Anda perlu tahu bahwa aku adalah sulung dari sembilan bersaudara. Anda bisa membayangkan betapa besarnya keluargaku dan betapa ramainya rumahku saat aku, ayah, ibu, dan adik-adikku berkumpul. Namun sayang, orang tuaku tidak terlalu mengenal KB.

Dilahirkan dari keluarga besar seperti itu, membuatku trauma, membuatku takut, membuatku enggan untuk punya anak banyak. Bahkan kalau dibolehkan, ingin rasanya hanya memiliki satu anak saja kalau sudah menikah kelak. Anda mungkin perlu tahu bahwa beberapa tahun ini aku mendapatkan banyak sekali komentar-komentar yang tidak mengenakkan dari teman-temanku perihal rencana-rencanaku saat sudah berkeluarga kelak. Namun biarlah, itu hak mereka.

Melihat negeri kita ini, Indonesia kita ini, mungkin hati Anda akan menangis saat sadar bahwa fakta-fakta tentang kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan kejahatan merebak sekali di negeri ini. Dan menurutku, semua masalah ini berakar dari kemiskinan. Ya, kemiskinan. Satu kata yang sangat ditakuti oleh jutaan orang di negeri ini. Akui saja, Anda pasti sangat takut miskin, apalagi kalau tidak punya uang sama sekali, berbagai masalah akan datang menyerbu Anda, dan tentu saja mungkin Anda akan lupa kapan terakhir Anda tersenyum. Menurutku, tidak ada orang yang benar-benar bisa bahagia jika hidupnya selalu saja bermasalah.

aku2

Di negeri ini, di Pulau Jawa, khususnya yang beragama Islam, masih banyak yang beranggapan bahwa banyak anak – banyak rezeki, atau yang menggunakan sunah rasul yang mengatakan bahwa Rasulullah sangat menyukai umatnya yang banyak. Ada juga yang berpendapat bahwa Rasulullah menyukai angka ganjil, jadi jangan heran jika ada orang yang menginginkan jumlah anak tiga atau lima. Masih banyak lagi alasan yang mungkin Anda temukan saat orang lain memutuskan untuk memiliki anak banyak.

Aku sangat menyayangkan saat sebuah keluarga yang secara finansial hanya mampu membiayai suami, istri, dan satu orang anak, tetapi membuat kelalaian dan dengan berani melahirkan seorang atau dua orang anak lagi, dengan harapan membaiknya finansial keluarga. Apalagi jika dirasa bahwa keluarga ini tidak menyadari kesalahan yang mereka perbuat, geram sekali rasanya. Hal ini bisa Anda lihat di daerah pedesaan, dan jumlahnya sangatlah banyak, keduapuluh jari tangan dan kaki Anda tidaklah cukup untuk ini. Maafkan aku jika Anda tidak setuju denganku yang menyayangkan hal ini.

Untuk mendukung keberhasilan program KB saat ini, menurutku adalah menjadikan Anda dan pasangan Anda sebagai “agent of KB”, menjadi contoh bagi orang-orang di sekeliling Anda, karena dengan menjadikan contoh berarti Anda sudah menjadikan keluarga Anda sebagai bukti. Ingat, seringkali bukti adalah yang dituntut banyak orang saat ini, dan menjadi parameter janji-janji yang pernah Anda ucapkan. Sekali lagi maafkan aku karena ucapan ini keluar dari mulut seseorang yang belum menikah apalagi punya anak, seperti aku.

aku2

Anda mungkin pernah mendengar “efek domino”. Yah, percayalah bahwa saat Anda berhasil dengan menjadikan keluarga Anda sebagai bukti nyata, apalagi bisa dijadikan panutan dalam masyakarat, maka KB yang ingin Anda tularkan kepada orang-orang di sekeliling Anda akan menyebar otomatis, mungkin dari mulut ke mulut, dan mungkin tanpa disadari sama sekali. Kalaupun Anda ingin menularkannya dengan lisan atau tulisan, tidak harus berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan akan berimbas tidak baik.

Baiklah, mungkin cukup celotehku sore ini. Mari kita mendukung program KB, pilihlah jenis KB yang Anda rasa cocok bagi Anda dan pasangan. Mari kita berbagi pemikiran, apa saja. Nuwun.

Perhatikan gambar berikut. Indah bukan? :)

aku2

Ditulis oleh arifinsamsul

Maret 2, 2011 pada 2:44 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.