EMPAT HARI MENCARI “CINTA”

Sabtu sore, menjelang maghrib lebih tepatnya, mendadak aku memutuskan untuk “terbang” ke Jakarta. Setelah memberikan beberapa petuah bijak kepada beberapa muridku yang akan mengikuti Ujian Masuk UGM keesokan harinya, aku membulatkan tekad untuk berangkat. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, karena sebenarnya aku tidak tahu pasti tujuan keberangkatanku kali ini. Aku hanya merasa bahwa ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sana. Adikku pun tidak henti-hentinya “mengompor-ngompori” aku untuk datang ke sana, menjenguknya, dimana mungkin kami hanya bisa bertemu setahun sekali di hari raya Idul Fitri. Yah, mungkin perjalananku kali ini bisa disebut sebagai kunjungan seorang kakak kepada adiknya.
Dengan diantar Mbah Teguh, sampai juga aku di stasiun Lempuyangan ba’da maghrib kala itu. “Ngopo to Pin sakjane, kok mendadak banget?”, kalimat yang sering terlontar dari mulutnya di saat ia menemaniku menunggu KA datang. Karena aku pun tidak tahu pasti jawaban pertanyaannya tersebut, maka aku jawab sekenanya saja, “Ini demi cinta, Guh”. Aku hanya berharap jawaban ini cukup memuaskan hasrat ingin tahunya saat itu. Akhirnya ia berlalu dariku sesaat sebelum KA datang, dan ia berpamitan untuk pergi dari stasiun dengan wajah yang masih penasaran sepertinya.
Sekitar pukul 08.00 KA yang aku naiki “mendarat” di stasiun Pasar Senen. Ternyata aku sudah ditunggu oleh adik iparku, Jeni di dekat parkiran motor. Langsung saja aku diantar ke kontrakan ayahku, di kawasan sunter sana, sebelah kampus swasta IBII (Institut Bisnis dan Informatika Indonesia) lebih tepatnya. Untuk beberapa saat aku beristirahat sambil menuju kedatangan Mahfud yang berjanji akan menemuiku, karena ternyata kosnya tidaklah jauh dari tempat tujuanku tadi. Akhirnya menjelang dhuhur si Mahfud datang dan kami pun shalat berjamaah di masjid terdekat. Setelah shalat kami mengobrol banyak dan dari sini aku tahu bahwa ia mengalami hari-hari yang cukup berat selama kurang lebih dua bulan tinggal di ibukota negeri ini.
Mahfud menceritakan kesehariannya selama bekerja di Indonesian Power yang merupakan bagian dari PLN. Beberapa hari terakhir ini ia sering melihat “kekerasan” di jalan raya, dari tabrak lari, mobil yang saling menyerempet, orang digilas mobil. Dengan miris ia berkata lirih, “Kalau boleh memilih, lebih baik aku bekerja di luar Jakarta, Pin!!”. Aku terperanjat mengengar pernyataannya tersebut. Apakah sekeras itu hidup di ibukota negeri ini? Entahlah, aku tidak tahu pasti. Akhirnya kami menghabiskan waktu bersama dengan bercerita dan bercengkerama sore itu. Sesuatu yang sepertinya telah lama kami tinggalkan. Yah, kami tengah mengejar takdiri masing-masing saat ini, mencari “posisi” dimana kami bisa bertahan hidup di dunia ini. Entah kenapa, pada “moment” ini aku merasa bahwa kami bak dua sahabat yang telah lama terpisah jauh, padahal boleh dikatakan baru beberapa dua bulan kami berpisah. Sebelumnya kami masih bisa bercanda seperti biasa, karena hampir setiap hari kami bertemu, dan hampir setiap kami bertemu pasti ada saja bahan obrolan yang bisa membuat kami tertawa. Kalau dipikir-pikir kebersamaan yang kami lalui tidaklah singkat. Dari kelas dua SMA kami telah bersama, sekelas, bahkan sebangku, dan ini berlangsung hingga kelas tiga SMA. Hingga pada akhirnya kami harus kuliah, kami pun masih ditakdirkan untuk bersama, hanya saja kami terpisah oleh dua fakultas. Aku terdampar di fakultas MIPA dan Mahfud di Teknik.
Menjelang sore, kami pun berpisah. Ia kembali ke kosnya dan aku juga kembali beristirahat. Malam harinya aku diajak jalan-jalan oleh adikku. Pertama-tama aku diajak ke dokter spesialis kulit karena adikku begitu khawatir tentang “alergi terhadap keringat sendiri” yang aku idap. Aku jadi mengerti mengapa banyak sahabat yang berkata, “Pin, keringetmu deneng wangi temen?”. Aku pikir ini adalah pujian untukku, ternyata aku salah besar. Selanjutnya, aku dibawa ke tukang cukur. Kata adikku, “Kuwe rambutmu dicukur lah, gondrong banget. Elek banget jan!!”. Entah kenapa adikku yang satu ini sangat memperhatikan penampilanku. Apa ia takut nantinya aku tidak akan mendapatkan pendamping hidup hanya karena penampilanku yang seadanya? Hemm, ternyata adikku sendiri pun belum mengenalku dengan baik sepertinya.
The next day, show up!!. Hari Senin dan Selasa aku harus berurusan dengan seorang kenalan ayahku, yang membuatku harus “terbang” ke Jakarta dengan mendadak. Akhirnya “urusan” pun dapat aku selesaikan dengan baik. Akhirnya, hari Selasa sore aku bisa kembali “main-main”, bersama Mahfud tentu saja, karena aku masih buta Jakarta saat ini. Kalau Mahfud, sepertinya sudah cukup hafal dengan jalan-jalan yang ada di ibukota negeri ini. Namun sayangnya, ia harus mengalami “kecopetan” terlebih dahulu sebelum sampai kontrakan ayahku. Aku menjadi merasa bersalah atas kejadian ini. Yah, seperti biasanya, aku mencoba mengingatkannya, dengan mengatakan, “Fud, mungkin gajimu wingi urung ditokna 2,5 persene, dadine dijukut paksa nang Gusti Allah”. Dengan pasrah ia menjawab, “Iya kayane Pin”.
Sekitar pukul 18.00 aku, Mahfud dan beberapa sahabat mengadakan janji untuk bertemu. Ada banyak sahabat yang aku ajak via sms, tetapi hanya sedikit yang bisa datang. Kami janjian bertemu di RESTOCORNER, sebuah restoran ala Jepang yang terdapat di perempatan jalan daerah Salemba, dekat kampus Universitas Indonesia. Yang dapat hadir memenuhi undangan di antaranya adalah Reni, Nur, Esha, Mahfud, dan aku sendiri. Kemudian kami memesan menu utama restoran itu yang disebut SUKI, yaitu semacam sayur mayur yang “dihiasi” dengan beberapa jenis daging dan bakso. Kalau boleh terus terang, makanan ala Jepang itu tidak terlalu enak menurutku, atau mungkin lidahku yang tidak terlalu familiar dengan masakan luar negeri. Namun, aku bahagia bisa bertemu dan berkumpul dan sahabat-sahabat yang mungkin hanya bisa bertemu setahun sekali ini. Setelah lelah bercengkerama, kami memutuskan untuk shalat Isya di masjid kampus Universitas Indonesia yang ada di seberang restoran ini, yang kebetulan juga sedang mengalami perbaikan sepertinya.
Seperti biasanya, aku memutuskan untuk pulang, dan ini bersifat mendadak. Adikku pun kaget oleh perbuatanku ini, karena ia sangat berharap bisa pulang ke rumah bersamaku. Namun, aku berpikiran lain. Saat aku merasa tidak memiliki alasan untuk tinggal maka aku akan langsung berpamitan dan hengkang kaki. Saat berpamitan kepada adikku, terlihat sedikit kekecewaan di matanya, tetapi ia mencoba menutupi dengan aktivitas kesibukannnya. Sekitar pukul 12.00 aku sampai stasiun Senen dan langsung memesan tiket untuk pulang. Alasan lain aku “ngotot” ingin pulang adalah karena tidak ingin ketinggalan berpartisipasi dalam Pemilu kali ini. Entah kenapa aku sangat bersemangat dalam hal ini. Mendengar kabar bahwa tidak ada tempat duduk tersisa pun tidak mematahkan semangatku untuk segera sampai rumah dan ikut mencontreng.
Saat aku di dalam KA dan melihat begitu banyak orang yang membicarakan masalah Pemilu, maksudku setiap orang membicarakan Partai idaman masing-masing, aku iseng menuliskan status di fesbuk milikku, dan aku sangat tercengang karena mendapatkan banyak “hujatan”. Aku juga ikut emosi dalam hal ini. Status yang aku maksud tadi adalah sebagai berikut :

SAAT INI DITULIS, AKU BERADA DI ANTARA RATUSAN ORANG-ORANG YANG SEDIKIT PEDULI PADA NEGERI INI. MEREKA RELA DUDUK BERHIMPITAN DENGANKU HANYA UNTUK MENGGUNAKAN HAK PILIH MEREKA. BAGI ANDA YG BERNIAT GOLPUT, TOLONG PERTIMBANGKAN KEMBALI. HARGAI USAHA DAN HARAPAN MEREKA. BAGI ANDA YG NEKAD GOLPUT, KURUNG DIRI ANDA DI KAMAR BESOK SEHARIAN!! MALULAH PADA MEREKA..
Entah kenapa aku merasa marah saat ada orang-orang yang bangga dengan keputusannya TIDAK MEMILIH alias GOLPUT. Lain urusannya kalau itu disebabkan karena kesalahan teknis atau sama sekali tidak terdaftar, tetapi yang membuatku muak adalah orang-orang yang memiliki hak pilih dan terdaftar tetapi dengan sengaja tidak memilih. Apalagi kalau dengan bangganya ia berkata, “Hidup GOLPUT!!”. Arghh, darahku mendidih seketika rasanya. Entahlah, aku tidak tahu apakah ini karena rasa nasionalismeku yang terusik atau memang perasaanku saja yang sedang sensitif.
Akhirnya, aku sampai di Kebumen sekitar pukul 21.00. Aku merasa mendapatkan banyak sekali pengalaman dalam perjalananku kali ini. Aku juga merasa mendapatkan banyak sekali cinta di dalamnya, dari adikku, sahabat dan orang-orang di sekelilingku, dan juga tidak lupa dari ratusan orang yang ada di dalam KA saat itu. Walaupun berdesak-desakan tetapi aku merasa bahagia dan bangga bisa bersama di tengah-tengah mereka, bersama orang-orang yang masih memiliki harapan dan cita-cita kepada negeri ini, bersama orang-orang yang berharap bahwa negeri ini akan menjadi negeri yang lebih baik dari sebelumnya.
Terima kasih ya Allah ya Rabb, aku masih diizinkan untuk mendokumentasikan perjalananku kali ini. Aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersuara dalam pesta demokrasi di negeri ini. Ah, sepertinya cukup sudah aku bercerita kali ini. Mari kita tetap berbagi pengalaman dan kisah perjalanan. Apa saja. Nuwun.
Deg-degan ga pas mau ketemu aku? *wink wink*
fairuzdarin
November 23, 2009 pada 12:22 pm