Membunuh dan Dibunuh

Huaah, ngantuk. Pagi yang cerah. Namun membuatku bingung ingin berbuat apa di pagi ini. Ingin sekali menulis, tapi mengingat masih banyak yang harus dilakukan, akhirnya aku hanya menampilkan tulisanku di multiply milikku, yang pernah aku tulis Ramadhan kemarin. Aku pikir baik kalau aku tampilkan di sini mengingat kebiadaban Israel yang semakin hari semakin berani. Berikut adalah reviewnya.
“Nyawa seseorang kini semakin tidak ada ”harga”-nya saja. Banyak sekali mayat-mayat yang ditemukan tanpa identitas, tanpa busana, atau bahkan termutilasi. Sepertinya ”membunuh” adalah naluri alamiah manusia untuk mempertahankan diri, dan tidak perlu belajar teknik apapun. Mungkin tanpa kita sadari, itulah hukum alam di dunia yg kita huni ini. Siapa yang hendak ”survive” dan eksist, maka ia harus mampu untuk bertahan hidup, bagaimanapun caranya & sisanya yang tidak mampu bertahan akan tergilas”.

Saat aku menulis itu kalimat bercetak tebal tersebut dulu, banyak sekali berita-berita pembunuhan yang aku tonton di televisi. Maafkan aku kalau saat ini sedang membahas mengenai pembunuhan dan “sifat” membunuh pada diri manusia. Beberapa latar belakang mengapa pembunuhan bisa terjadi setahuku sampai saat ini adalah karena ingin membela diri, melindungi orang lain, dan yang tidak masuk akal adalah menerima perintah dari orang lain. Jadi, sifat membunuh ini bukanlah dimiliki, melainkan “dibentuk” menurutku, baik itu dari keadaan sekitar, latar belakang pendidikan, bahkan seperti alasan yang terakhir tadi, yaitu menerima perintah orang lain. Hah, semoga sekarang keadaannya menjadi jauh lebih baik. Amiin.
Namun sepertinya tidak. Israel, oh Israel. Apa yang kau pikirkan saat ini? Sungguh terkutuk. Ironis sekali, dunia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. PBB tidak berguna sama sekali. Bahkan mungkin lebih baik kalau PBB dibubarkan saja. Huh…
Menurutku, perbuatan Israel kali ini adalah perbuatan yang sangat biadab dan sangat keji, karena bersifat pembantaian terhadap suatu kaum. Bagaimana tidak, penduduk sepanjang jalur Gaza sama sekali tidak “diizinkan” untuk keluar dan mengungsi. Mereka semua dibuat terkurung dan “menikmati” datangnya rudal-rudal Israel yang menari-nari dari atas pesawat mereka. Itu yang aku ketahui sampai saat ini.

Apapun alasannya, pembantaian suatu kaum adalah perbuatan biadab menurutku. Sangat tidak berkeprimanusiaan. Kalaupun berbeda agama, ideologi, dan kepercayaan, seharusnya “kita” semua mampu hidup bersama di bumi yang kita pijak ini. Apakah “kita” tidak dapat hidup bergandengan tangan, merawat bumi bersama dan demi kepentingan dan kemaslahatan bersama pula? Aku pikir sebenarnya kita semua mampu melakukannya, untuk hidup damai dan ”bertetangga” di bumi kita bersama ini. Mengapa harus saling bunuh dan saling membinasakan? Tidak seharusnya Israel berpikir picik dan sangat tidak rasional untuk membinasakan semua penduduk Palestina yang ada di jalur Gaza. Adakah yang bisa kita lakukan untuk menghentikan kebiadaban Israel kali ini? Oh dunia, mari kita bertindak cepat sebelum bertambah lagi nyawa yang ”terbuang” percuma.
Di mana PBB saat ini? Apakah mereka hanya berpangku tangan? Kalau begini terus, aku pikir PBB lebih baik dibubarkan saja, karena fungsinya menjaga perdamaian dunia tidak berfungsi sama sekali. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa lagi untuk kekejaman dan kebiadaban Israel kali ini. Aku hanya bisa menangis melihat korban yang jatuh semakin banyak setiap harinya. Apakah ini semua ada sangkut pautnya dengan kota Yerussalem yang ada di Palestina? Mengapa tiga agama (Islam, Kristen, dan Yahudi) yang merasa memiliki kota suci ini tidak dapat hidup berdampingan. bergandengan tangan, tanpa ada usaha untuk saling memusnahkan satu sama lain? Aku pikir sebenarnya tiga agama tersebut sangat mampu untuk berpikir jernih dan mementingkan perdamaian dunia daripada mencoba merebut kota suci tersebut dan memilikinya secara mutlak.
Sejak dari dulu sampai sekarang, ketika Israel tengah melakukan kejahatan kemanusiaan, maka dengan serentak, Israel menerapkan penguasaan media yang seragam. Tapi apakah sekarang Israel memenangkan perang media ini? Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni menyampaikan sebuah pesan di YouTube bahwa dengan membuat 1,5 juta orang Palestina di Jalur Gaza kelaparan, sekarat, terpenjara, dan dibom akan membuat dunia menjadi lebih damai, menjadi lebih baik, dan indah untuk demokrasi serta keamanan dunia. Namun, kenyataannya tidak selalu yang diharapkan para Zionis itu terwujud. Surat kabar di AS semakin hari semakin memperlihatkan obyektivitasnya. Selain memenuhi pesanan Tel Aviv, mereka juga menyisakan satu ruang kosong, dan membuat pertanyaan : “Apa yang dimenangkan oleh Israel sebenarnya?”. Apakah Anda tidak berpikir, “Apa tujuan Israel sebenarnya?”
Kenyataannya, Israel sekarang tak bisa lagi memenangkan perang media di AS. Ribuan orang di negeri itu lebih berhati-hati dan memfilter semua berita yang masuk. Semua kenyataan perang yang ditimbulkan oleh Israel, potret bocah-bocah Palestina yang dibantai, sekolah PBB yang dihancurkan bom, gedung, rumah dan rumah sakit yang diratakan tanah, telah membuka mata semua orang di negeri itu. Internet telah membuka semua kemungkinan bahwa Israel tak akan pernah bisa lagi menyembunyikan segala kelakukan barbarnya. Israel sekarang harus menghadapi kenyataan, strategi perang medianya tak berjalan. Warga AS dan Barat tak selamanya senang melihat paha mulus—sebaliknya, atas nama nurani, mereka bangkit ketika melihat bayi yang terkoyak karena bom. Lantas, bagaimana dengan kita? Aku, sebagai orang Islam tidak akan ragu mengatakan bahwa : ISRAEL BIADABB!!
Baiklah, saatnya kembali bekerja. Mungkin seharusnya aku lebih memikirkan nasib bangsaku sendiri yang tidak kalah “porak poranda” saat ini. Mari kita tetap berbagi cerita dan rencana hidup. Apa saja. Nuwun.
serem, ah.
-_-
fairuzdarin
Februari 8, 2010 pada 5:08 am