Mari Menjadi Bahagia

Beberapa waktu yang lalu, aku membaca tulisan salah seorang temanku. Dia merasa bahwa ia ingin jatuh cinta lagi setelah sekian lama. Ia merasa kehidupannya saat ini sangat monoton dan “datar-datar” saja. Ia ingin hatinya “berdebar-debar” lagi dan dapat merasakan BAHAGIA kembali. Padahal menurutku, ia serba berkecukupan, bahkan dapat dikatakan kaya. Maksudku dari segi materi ia jarang menemui kesulitan untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. Jadi, secara logis kebanyakan kita mengatakan bahwa ia bahagia dengan apa yang ia miliki, atau setidaknya cukup bahagia.
Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama? Maksudku merasa tidak bahagia? Nah, ternyata ada jalan keluarnya. Beberapa waktu yang lalu aku juga membaca artikel menarik tentang bagaimana menjadi bahagia. Berbicara mengenai kebahagiaan, ada beberapa fakta yang perlu Anda ketahui. Berbagai penelitian menunjukkan, kekebalan tubuh kita akan meningkat seiring dengan meningkatnya kebahagiaan yang kita rasakan. Orang yang bahagia lebih kebal terhadap virus. Orang yang bahagia dapat hidup lebih sehat dan lebih lama. Bahkan menurut konferensi Happyness & Its Causes yang diadakan di Australia beberapa waktu yang lalu, optimisme bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler. Banyak yang bisa lakukan untuk meningkatkan level kebahagiaan, dan ini bukan dengan cara memenangi undian atau membeli mobil atau sepeda motor baru.
Cara paling mudah untuk meningkatkan level dasar kebahagiaan adalah dengan mengembangkan rasa empati dan kerelaan untuk berkorban demi orang lain. Ya, dengan meningkatkan jiwa sosial kita. Maksudku jiwa ingin memberi kita. Dengan membantu orang lain, kita akan merasa lebih berarti dan ini berakibat membuat kita lebih bahagia. Tidak sedikit studi yang menunjukkan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Memberi dan membantu orang lain akan memberi banyak makna pada hidup kita dan akan timbul rasa bahagia yang kita harapkan secara otomatis. Seorang eksekutif yang menyerahkan setengah dari bonus tahunannya pada orang yang membutuhkan, akan membuatnya bahagia karena perasaan “berarti bagi orang lain” yang ia rasakan.
Anda dapat memperhatikan anak-anak di sekitar Anda. Mereka justru lebih peduli pada sesamanya dan makhluk lain. Ini karena pada dasarnya kita terlahir dengan sikap tulus dan jiwa pemberi. Namun seiring dengan bertambahnya usia kita, kita menjadi semakin egois dan mementingkan diri sendiri. Karena itulah menolong orang lain menjadi urutan terakhir dalam pikiran kita. Dengan semakin banyaknya pengalaman buruk akibat persaingan yang kita peroleh, sikap egosentris kita semakin dominan dan membuat kita semakin tidak peduli pada orang lain.
Untuk itulah kita perlu mengajari anak-anak sejak dini tentang pentingnya rasa empati kepada orang lain dan pentingnya menolong orang lain. Contoh konkret, kita dapat mengajari mereka untuk menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk disumbangkan pada kegiatan sosial di sekolahnya. Beri mereka reward jika perlu. Tentu saja kita sebaiknya memberi contoh, tidak hanya mengajari dan menyuruh. Meski kecil, Anda telah berkontribusi nyata dalam menciptakan dunia yang lebih baik dan indah.
Betapa tidak, Anda dapat membayangkan jika sebagian besar orang mampu menjadikan sikap untuk menolong sebagai sikap utama dalam hidup dan mampu mengaplikasikannya, maka niscaya kita tidak akan lagi melihat orang-orang yang menangis akibat tidak punya uang untuk membeli sesuap nasi. Aku juga yakin tidak akan lagi kita melihat anak-anak usia sekolah yang meminta-minta di perempatan jalan hanya untuk membantu kedua orang tuanya meringankan beban hidup.
Cara lain untuk menolong orang lain adalah dengan mau mendengarkan masalah yang ia hadapi. Seringkali bukan uang yang dibutuhkan saat orang lain memiliki masalah, tetapi hanya sekedar teman untuk mendengarkan apa yang ia rasakan. Dengan terbaginya suatu masalah, sang pemilik masalah akan merasa bahwa beban yang ia embank sedikit-banyak telah berkurang. Menjadi pendengar yang baik juga dapat membuat kita bahagia karena perasaan “berarti bagi orang lain” yang muncul secara otomatis tadi. Setelah mendengarkan, berilah solusi jika perlu dan diminta. Tidak usah terlalu berlebihan, karena pada dasarnya setiap orang mampu memecahkan masalahnya sendiri. Ia hanya butuh dukungan dan empati dari orang lain sehingga membuatnya menjadi lebih percaya diri.

Karena itu, mari kita menjadi bahagia dengan selalu membantu orang lain. Cukup semampu kita. Tidak usah terlalu berlebihan. Betapa baiknya jika hidup diisi dengan orang-orang yang saling membantu dan tolong menolong. Dunia akan harmonis dan indah. Ah, cukup racauanku tentang kebahagiaan. Mari kita tetap berbagi ide dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.
Ipin bener sekali..
Tulisan Ipin ini udah bikin aku bahagia, lho. Thanks, yup.
fairuzdarin
November 15, 2008 pada 6:02 am
Taraaa…
Aku main lagi kesini…
Hehehe…
Ipin ipin ipin, aku sekarang tambah bahagia.
Bahagiaaa bangeeet…
Thanks, yup.
fairuzdarin
Februari 8, 2010 pada 5:10 am