Arsip untuk Oktober 2008
Syawal, Bulan Penuh Nikah

Alhamdulillah aku dapat kembali membaca Al-Quran hari ini, walaupun hanya sedikit. Aku merasa saat ini sulit sekali kembali “akrab” dengan teman lamaku itu, teman bermainku saat aku kecil dulu. Hanya di bulan Ramadhanlah aku dapat “bercengkerama” dengannya hampir setiap hari, setelah shalat. Setelah hari raya Idul Fitri dan memasuki bulan-bulan selanjutnya, kami berdua kembali “asing”. Tidak setiap hari kami dapat bertemu dan “ngobrol”. Ini semua akibat kesibukanku yang sungguh tidak berarti. Sering aku paksa diriku untuk mencoba menyapanya, hanya untuk mendapatkan kembali perhatiannya, karena terus terang aku tidak ingin kami berpisah. Aku tidak ingin “dia” meninggalkan dan mencampakkan aku. Aku sangat butuh bimbingannya saat aku merasa gundah dan kesepian. Maafkan aku ya Allah, ya Rabb. Jangan biarkan Al-Quran membenciku dan tidak peduli padaku.
Setelah tilawah beberapa ayat, aku duduk di depan monitor dan memainkan jemariku di atas tuts putih keyboardku. Mencoba menyusun skripsiku sebenarnya niat awalku. Namun saat aku membuka handphone-ku karena ada sms, aku melihat isi sms salah seorang temanku, perempuan, yang baru “putus’ dengan jejaka yang dicintainya. “Iiih, dikandani koh ! Aku ora nangis mau kok. Nek ora percaya ya wislah Pin”. Ia berceloteh panjang-lebar dan menjelaskan bahwa ia tidak lagi bersedih dan tidak menangis hari itu. Ia hanya menangis kemarin dan kemarinnya lagi. Namun, dengan melihat lebam di pelupuk matanya dan wajahnya yang cukup pucat, aku tidak dapat mempercayai ucapannya tadi.
Yang dapat aku bayangkan, kemungkinan besar ia menangis hampir tiga jam sekali dan kurang tidur. Bahkan sampai malam tadi sepertinya ia masih saja memandangi foto jejaka di dompetnya, dan sambil menangis bertanya pada foto itu, “Mengapa kau lakukan ini padaku? Mengapa semua ini terjadi padaku?”. Ia baru bisa tidur saat jam menunjukkan angka 03.00. Kasihan sekali temanku ini. Cinta pertamanya kandas, hampir mirip denganku. Bedanya, aku tidak sempat mengalami kisah indah dan petualangan bersama sang idaman hati dalam sebuah komitmen “bodoh” dan konyol !!. Aku pikir komitmen tersebut akan lebih indah saat aku mengucapkan ikrar, “Aku terima nikahnya …, dengan mas kawin …, dst”. Aku akan menunggu saat itu tiba.
Duh, kok semakin tidak sesuai dengan judul ceritanya? Baik, kembali ke masalah nikah, sebuah kata yang tidak henti-hentinya “mampir” ke telingaku beberapa minggu ini. Setelah mendapatkan fakta bahwa temanku, Eka Puspitasari, akan menikah dan melangsungkan resepsinya hari Minggu besok – 19 Oktober 2008, ternyata menyusul fakta baru lagi bahwa “murabbi”ku, Mas Bagas, temanku dalam mengkaji ilmu sekaligus tempatku berkeluh kesah dalam usaha menjaga iman dan hati, telah menikah Kamis kemarin, 9 Oktober 2008.

Aku diundang sebenarnya, tapi tidak bisa datang. Aku hanya bisa datang pada acara resepsi di tempat pihak laki-laki pada hari Minggu kemarin, 12 Oktober 2008, bersama beberapa temanku tentu saja. Saat melihat kedua pasangan bergandengan tangan menuju altar/mimbar untuk dapat dilihat oleh khalayak ramai, terbersit rasa “ingin menikah” seketika. Karena mereka terlihat begitu bahagia. Sambil tersenyum kecil mereka saling memandang satu sama lain. Setelah aku dan beberapa temanku menikmati hidangan yang disediakan, kami pamit pulang.
Karena disuruh foto-foto terlebih dahulu, mau tidak mau aku harus memasang wajah bahagia, walaupun sebenarnya hatiku berkecamuk mencoba menjawab pertanyaan, “Kapan giliranku?”. Inilah alasan terbesarku mengapa aku sering “menghindari” untuk datang pada acara pernikahan. Aku merasa mudharatnya jauh lebih besar bagiku. Setelah beradu pipi kanan-pipi kiri, kami semua berpamitan, dan sesaat sebelum aku melangkahkan kaki, aku menatap wajah sang istri dan berpesan, “Mba, tolong jaga Mas Bagasku”. Spontan wajah sang istri langsung merah-padam. Namun, seketika wajahnya kembali serius dan merasa mantap bak mendapatkan angin segar. Aku tahu amanahku ini akan dapat dilaksanakannya dengan baik. Aku mengkernyitkan dahi setelah kembali menengok wajah Mas Bagas. Terlihat wajah yang malu sekaligus bahagia. Sepertinya ia berkata dalam hati, “Dasar bocah tengik !”, saat aku melangkahkan kaki keluar.
Beberapa hari setelah itu, aku shock !!. Aku mendengar kabar yang sangat tidak bisa aku percayai. Ternyata si Ali, teman satu halaqohku, juga telah menikah sehari setelah lebaran kemarin, 3 Oktober kemarin. Hanya saja resepsinya menyusul pada akhir November 2008 besok. Sepertinya ingin disesuaikan dengan syukuran wisudanya. Semoga Mas Bagas tidak “buru-buru” menikah hanya tidak ingin kalah saing dengan “murid”nya sendiri. Aku benar-benar bingung melihat apa yang terjadi pada orang-orang di sekelilingku. Mengapa mereka semua sepertinya berlomba-lomba untuk melepas masa lajangnya? Apa enaknya menikah muda?
Karena penasaran dengan berita tadi, aku langsung menelepon si Ali ini. Setelah mengucapkan salam dan basa-basi sedikit, aku menanyakan kebenaran berita itu dan ia dengan nada bijak dan tenang menjelaskan semuanya. Beberapa ucapannya yang aku ingat, “Iya akhi, aku udah nikah. Maaf ga undang-undang karena prosesnya begitu cepat, bahkan aku sendiri ga nyangka kok secepat ini. Ta’arufnya mulai awal Ramadhan kemarin dan diputuskan tanggal 3 kemarin kami menikah. Mohon didoakan semoga kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Resepsinya akhir November ini, datang ya akh. Btw kapan nyusul?”. Glubrak !! STOP !!. Aku tidak ingin berangan-angan. Tunggu sampai aku berumur 25 tahun, baru bisa aku pikirkan.
Aku tidak pernah berpikir sampai saat ini untuk melakukan proses “ta’aruf”. Dengan memberikan biodata dan kriteria yang kita inginkan sebagai pasangan, akan muncul banyak sekali nama dan rekomendasi dari orang yang kita percayai tadi. Bahkan aku tidak menyangka kalau prosesnya bisa berjalan kurang dari satu bulan, seperti contoh konkret si Ali di atas. Namun setelah dipikir-pikir kembali, daripada waktu kita terbuang percuma hanya untuk mencari atau menunggu sang idaman hati, lebih baik menyerahkannya pada orang lain yang lebih berkompeten. Banyak kepala akan lebih baik daripada satu kepala. Duh, aku semakin bingung, apakah perlu aku melakukannya?
Saatnya bagian kesimpulan dan pendapat pribadi. Dari ketiga pernikahan di atas, kalau boleh memilih, aku hanya akan merestui Mas Bagas saja, karena sisanya tergolong nikah muda, maksudku di bawah 25 tahun. Sampai saat ini aku sangat tidak simpatik pada orang yang melakukan nikah muda ini. Mereka semua masih saja melakukan budaya nenek moyang yang menurutku membuat bangsa ini sulit berkembang. Dengan problematika yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, seharusnya rakyatnya bahu membahu untuk membangun dan menyelesaikan masalah bangsa yang ada, bukannya berlomba-lomba untuk menikah pada usai muda dan kemudian beranak pinak.

Ingatlah wahai sahabatku, bangsa Indonesia kita ini bangsa yang besar, kaya akan sumber daya alam. Bangsa ini memiliki padi terbaik, mangga termanis. Untuk itulah, saya Samsul Arifin, atas nama Asosiasi Pemuda Indonesia menghimbau kepada seluruh pemuda-pemudi Indonesia, janganlah terburu-buru untuk nikah muda. Berkaryalah terlebih dahulu dan bangunlah bangsa ini. Usaha membangun bangsa ini akan lebih mudah dengan status Anda yang belum berkeluarga karena pikiran Anda akan dapat lebih fokus dalam bekerja dan belum dibubuhi masalah rumah tangga. Hidup rakyat Indonesia !!
Sebelum mengakhiri tulisan ini, aku ingin meminta maaf pada Anda yang tidak berkenan dengan idealismeku di atas. Aku jadi teringat akan kalimat terakhir pamanku yang meninggal karena ditembak perampok, “Pin, ingatlah. Semakin besar kekuatan, semakin besar pula kewajiban”. Semakin kita tumbuh dewasa dan kuat, menurutku semakin besar pula kewajiban kita untuk membuat bangsa ini lebih baik dan tidak terpuruk seperti sekarang ini. Bangsa Indonesia ini bukan terpuruk karena miskin uang, tetapi karena miskin komitmen dari sebagian besar rakyatnya, komitmen dan rasa berkewajiban untuk bahu membahu membangun bangsa menuju kehidupan yang lebih baik.
Sudah cukup celoteh dan ocehanku tentang pernikahan dan nasib bangsaku saat ini. Mari kita tetap berbagi ide dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.
Janganlah Saling Menghujat dan Menjebak, Mari …

Kemarin sore, setelah Mas Imam, calon suami temanku, Eka Puspitasari, salah seorang teman SMAku dulu, bertandang ke kosku untuk mengantarkan undangan pernikahan mereka pada tanggal 19 Oktober 2008 nanti, aku nonton televisi. Aku berharap aku mendapatkan sesuatu yang “segar” dan baru dari situ. Setelah mengganti-ganti chanel, aku tertarik pada satu tayangan yaitu Playboy Kabel. Entah kenapa aku memilih tayangan ini. Ah, biarlah.
Setelah melihat tayangan tersebut beberapa saat, aku semakin tertarik untuk menyelesaikannya. Di situ aku melihat ada seorang perempuan yang didampingi ayahnya sedang melakukan “uji coba” terhadap kekasih perempuan tadi. Mereka berdua menonton layar monitor yang berisi gambar kekasih perempuan tadi bersama wanita lain di sebuah café. Aku yakin Anda pun sudah tahu bahwa wanita lain yang bersama pria tersebut adalah salah satu “personil” dari Playboy Kabel yang ditugasi untuk “menguji” korbannya. Ternyata sang pelapor atau yang meminta crew Playboy Kabel melakukan tugasnya adalah sang ayah, karena ia merasa bahwa “calon” suami anaknya tersebut berkelakuan kurang baik. Ada-ada saja kelakuan sang ayah, pria yang aku taksir berumur 50 tahunan itu.
Aku dibuat naik pitam oleh tayangan ini. Aku kemudian berpikir, “kurang ajar sekali sang ayah ini!” Betapa tidak. Aku melihat si pria, kekasih perempuan tadi yang sedang “ditelanjangi” di depan umum, dan tanpa ia sadari tentunya, menunjukkan “belang”nya kepada khalayak ramai. Wanita yang bersamanya, sebut saja “sang penggoda”, pun dapat melakukan tugasnya dengan baik, karena ia cukup ahli dalam merayu pria. Ia melontarkan kalimat-kalimat rayuan yang cukup “dahsyat” dalam menghadapi pria di sebelahnya. Beberapa yang aku ingat adalah, “Yuk, kita langsung pergi ke rumahku aja. Di sini aku ga nyaman”, setelah itu “Nanti kalau di rumah kita ngapain ya?”, dan yang terbaik menurutku, “Nanti kalau di rumah enaknya aku pakai baju apa? Apa aku ga usah pakai baju sekalian aja ya?”. Masya Allah.
Ibarat kucing yang dihidangkan sebuah ikan di depannya secara gratis, ia pasti akan segera “melahap” makanan kesukaan di depannya tadi. Tanpa pikir panjang si kucing pasti membawa ikan tersebut ke suatu tempat yang dianggapnya sepi dan aman untuk segera disantap. Sebagai laki-laki, naluriku memberontak. Entah kenapa aku merasa tidak terima atas perlakuan ayah dan anak tadi terhadap pria “hidung-belang” yang mereka lihat bersama di depan monitor. Kasihan sekali aku melihat pria tersebut. Mungkin sudah menjadi takdirnya di hari itu. Ia bagaikan pria bodoh yang mengalami kesialan di suatu sore.
Aku hanya merasa tidak adil. Pria manapun, di belahan bumi manapun, pasti akan segera “meladeni” wanita yang mengeluarkan kalimat-kalimat “menantang” seperti di atas. Bahkan aku yakin, sang ayah pun akan melakukan hal yang sama jika berada pada posisi pria di cafe tersebut, yang tidak lain adalah kekasih anaknya tadi. Mungkin dari seratus orang laki-laki, hanya satu orang yang mampu menahan “godaan” seperti ini. Aku tidak tahu apakah aku juga akan “terjebak” jika berada pada posisi pria yang bersama “wanita penggoda” tadi. Ah, entahlah.
Menurutku, memang sudah menjadi fitrahnya bahwa laki-laki menyukai lawan jenisnya, dan sebaliknya. Secara kodrati, ia akan terus mencari wanita yang ideal untuk dijadikan pendamping hidupnya. Selama belum terjadi ikatan, yang kita sebut bersama sebagai “pernikahan”, setiap laki-laki akan merasa bebas untuk bergaul dengan siapa saja. Kecuali kalau ia telah berkomitmen untuk menikahi seorang wanita yang dianggapnya baik dalam waktu yang relatif singkat. Ia akan berusaha menjaga komitmen yang telah dibuatnya dan berusaha menghargai calon pasangannya. Inilah sifat dasar manusia. Hanya saja, terkadang ada laki-laki “kurang baik” yang masih mempertimbangkan wanita lain, walaupun ia telah memiliki calon pasangan. Aku yakin beberapa wanita pun melakukan ini. Ya, sebut saja mereka sedang “khilaf”.
Yang membuatku naik-darah dalam tayangan ini adalah, “ditelanjangi”nya seseorang di depan umum, di khalayak ramai. Setiap orang yang memiliki televisi dapat menonton acara ini. Menurutku lagi, sang ayah tadi sangatlah tidak arif dengan meminta bantuan tim pembuat tayangan tersebut untuk membuat semua orang tahu “kebejatan” kekasih anaknya. Ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan pria yang menjadi korbannya itu, di mana sangat mungkin ia akan menunjukkan sisi “kebejatan”nya kalau berada pada posisi yang sama dengan kekasih anaknya tadi. Seharusnya ia membicarakannya baik-baik agar tidak terjadi dendam. Tunjukkan bukti konkret kalau perlu. Namun cukup di tempat tertutup saja. Hanya di antara mereka yang berkepintangan saja. Tidak perlu semua orang mengetahuinya.

Hal ini menjadi pengecualian jika ia adalah seorang koruptor atau “tikus” pemerintah yang disinyalir menggelapkan uang negara miliaran rupiah. Sangat perlu khalayak ramai mengetahui ini, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Aku jadi teringat kasus seorang jaksa senior di Mahkamah Agung kita yang menjadi bulan-bulanan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) karena kasus suap yang dialaminya. Walaupun berusaha membela diri dan sesekali meneteskan air mata, ia tanpa daya menerima keputusan bahwa ia bersalah secara hukum dan akhirnya mau mengakui kekhilafannya tersebut. Ia tidak tahu bahwa ia sejak lama telah diincar oleh KPK dan saluran teleponnya telah disadap baik telepon seluler ataupun teleponnya di kantor. Huh, ia sangat pantas menerima semua perlakuan tadi menurutku.

Semoga aku tidak pernah mengalami hal yang dialami pemuda di atas. Dan setelah menjadi ayah kelak, semoga aku tidak akan pernah perbuatan yang “memalukan” seperti itu, dan mampu berbuat lebih dari yang dilakukan sang ayah di atas, dan lebih bijak tentunya. Mungkin cukup ocehanku kali ini. Saatnya beraktivitas kembali. Mari kita hidup dengan baik. Jangan lupa untuk tetap berbagi cerita menarik dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.
Mari Menjadi Bahagia

Beberapa waktu yang lalu, aku membaca tulisan salah seorang temanku. Dia merasa bahwa ia ingin jatuh cinta lagi setelah sekian lama. Ia merasa kehidupannya saat ini sangat monoton dan “datar-datar” saja. Ia ingin hatinya “berdebar-debar” lagi dan dapat merasakan BAHAGIA kembali. Padahal menurutku, ia serba berkecukupan, bahkan dapat dikatakan kaya. Maksudku dari segi materi ia jarang menemui kesulitan untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. Jadi, secara logis kebanyakan kita mengatakan bahwa ia bahagia dengan apa yang ia miliki, atau setidaknya cukup bahagia.
Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama? Maksudku merasa tidak bahagia? Nah, ternyata ada jalan keluarnya. Beberapa waktu yang lalu aku juga membaca artikel menarik tentang bagaimana menjadi bahagia. Berbicara mengenai kebahagiaan, ada beberapa fakta yang perlu Anda ketahui. Berbagai penelitian menunjukkan, kekebalan tubuh kita akan meningkat seiring dengan meningkatnya kebahagiaan yang kita rasakan. Orang yang bahagia lebih kebal terhadap virus. Orang yang bahagia dapat hidup lebih sehat dan lebih lama. Bahkan menurut konferensi Happyness & Its Causes yang diadakan di Australia beberapa waktu yang lalu, optimisme bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler. Banyak yang bisa lakukan untuk meningkatkan level kebahagiaan, dan ini bukan dengan cara memenangi undian atau membeli mobil atau sepeda motor baru.
Cara paling mudah untuk meningkatkan level dasar kebahagiaan adalah dengan mengembangkan rasa empati dan kerelaan untuk berkorban demi orang lain. Ya, dengan meningkatkan jiwa sosial kita. Maksudku jiwa ingin memberi kita. Dengan membantu orang lain, kita akan merasa lebih berarti dan ini berakibat membuat kita lebih bahagia. Tidak sedikit studi yang menunjukkan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Memberi dan membantu orang lain akan memberi banyak makna pada hidup kita dan akan timbul rasa bahagia yang kita harapkan secara otomatis. Seorang eksekutif yang menyerahkan setengah dari bonus tahunannya pada orang yang membutuhkan, akan membuatnya bahagia karena perasaan “berarti bagi orang lain” yang ia rasakan.
Anda dapat memperhatikan anak-anak di sekitar Anda. Mereka justru lebih peduli pada sesamanya dan makhluk lain. Ini karena pada dasarnya kita terlahir dengan sikap tulus dan jiwa pemberi. Namun seiring dengan bertambahnya usia kita, kita menjadi semakin egois dan mementingkan diri sendiri. Karena itulah menolong orang lain menjadi urutan terakhir dalam pikiran kita. Dengan semakin banyaknya pengalaman buruk akibat persaingan yang kita peroleh, sikap egosentris kita semakin dominan dan membuat kita semakin tidak peduli pada orang lain.
Untuk itulah kita perlu mengajari anak-anak sejak dini tentang pentingnya rasa empati kepada orang lain dan pentingnya menolong orang lain. Contoh konkret, kita dapat mengajari mereka untuk menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk disumbangkan pada kegiatan sosial di sekolahnya. Beri mereka reward jika perlu. Tentu saja kita sebaiknya memberi contoh, tidak hanya mengajari dan menyuruh. Meski kecil, Anda telah berkontribusi nyata dalam menciptakan dunia yang lebih baik dan indah.
Betapa tidak, Anda dapat membayangkan jika sebagian besar orang mampu menjadikan sikap untuk menolong sebagai sikap utama dalam hidup dan mampu mengaplikasikannya, maka niscaya kita tidak akan lagi melihat orang-orang yang menangis akibat tidak punya uang untuk membeli sesuap nasi. Aku juga yakin tidak akan lagi kita melihat anak-anak usia sekolah yang meminta-minta di perempatan jalan hanya untuk membantu kedua orang tuanya meringankan beban hidup.
Cara lain untuk menolong orang lain adalah dengan mau mendengarkan masalah yang ia hadapi. Seringkali bukan uang yang dibutuhkan saat orang lain memiliki masalah, tetapi hanya sekedar teman untuk mendengarkan apa yang ia rasakan. Dengan terbaginya suatu masalah, sang pemilik masalah akan merasa bahwa beban yang ia embank sedikit-banyak telah berkurang. Menjadi pendengar yang baik juga dapat membuat kita bahagia karena perasaan “berarti bagi orang lain” yang muncul secara otomatis tadi. Setelah mendengarkan, berilah solusi jika perlu dan diminta. Tidak usah terlalu berlebihan, karena pada dasarnya setiap orang mampu memecahkan masalahnya sendiri. Ia hanya butuh dukungan dan empati dari orang lain sehingga membuatnya menjadi lebih percaya diri.

Karena itu, mari kita menjadi bahagia dengan selalu membantu orang lain. Cukup semampu kita. Tidak usah terlalu berlebihan. Betapa baiknya jika hidup diisi dengan orang-orang yang saling membantu dan tolong menolong. Dunia akan harmonis dan indah. Ah, cukup racauanku tentang kebahagiaan. Mari kita tetap berbagi ide dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.
Pelayanan Publik yang Buruk Setiap Lebaran

Karena sudah tidak ada alasan mengapa harus tetap tinggal di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke Jogja kembali hari Minggu, 5 September kemarin. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 14.00 dan sampai Jogja sekitar pukul 17.30. Karena situasi lebaran, perjalanan Kebumen-Yogyakarta ditempuh dalam waktu 3,5 jam, padahal normalnya adalah 2,5 jam. Ada situasi “menarik” dan “panas” selama aku berada dalam bus. Berawal dari saat aku menaiki bus menuju Jogja tersebut. Perasaanku sudah tidak enak dari sini. Aku sudah melihat dari kejauhan bahwa sudah tidak ada tempat lagi dalam bus tersebut. Karena waktu yang sudah cukup sore dan aku tidak ingin terlalu malam sampai Jogja, terlebih lagi karena aku menunggu bus yang cukup lama, maka aku putuskan untuk tetap naik. Aku hanya berharap sampai Jogja sore itu juga.
Setelah berhasil naik, aku terpaksa berdiri di dekat pintu belakang bus. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan sang kondektur, barulah aku ketahui bahwa semua bus yang menuju ke timur, baik itu Yogyakarta, Semarang, maupun Solo, sangatlah sedikit. Hal ini terjadi karena banyak bus yang terjebak macet saat melaju ke arah barat sehingga belum ada yang sempat berbalik menuju ke timur. Aku jadi tahu juga bahwa sejak H+1 lebaran, bus yang menuju ke timur memiliki selang wakti sekitar 1,5 jam antara bus yang satu dengan yang lain. Bisa dibayangkan betapa penuh-sesaknya suasana di dalam setiap bus karena penumpang yang diangkut begitu banyak.
“Pak supir, umub kiye nangkene!”, kata seorang penumpang dengan kesal akibat supir yang “berulah” saat bus yang aku naiki sampai Purworejo. Hampir setengah jam bus berhenti di pinggir jalan. Entah apa yang dilakukan supir tersebut saat keluar dari bus selama 30 menit tadi. Kata sang kondektur, “ngapunten pak, anu supire lagi nguyuh”. Sang kondektur sedikit panik saat melihat amarah beberapa penumpang yang memukul atap bus dengan keras. Aku juga sebenarnya sedikit emosi. Kalau hanya untuk buang air kecil, maksimal butuh waktu lima menit sebenarnya.
Baru kali ini aku naik bus sambil berdiri selama 3,5 jam. Dari awal naik bus sampai turun ke tempat tujuan. Sungguh “fenomena” lebaran yang tidak akan mungkin aku lupakan dengan cepat. Dan aku sangat yakin, “fenomena” lebaran yang sangat buruk seperti ini juga terjadi pada “angkutan rakyat” yang lain, seperti kereta api bahkan mungkin juga pesawat terbang.
Setiap kali lebaran, setiap kali itu pula kita disuguhkan oleh fakta, baik itu melalui media cetak, televisi, ataupun internet, bahwa betapa buruknya pelayanan publik di negara kita ini. Rakyat, masyarakat, dan khalayak yang identik dengan “orang kecil” menjadi pihak yang sangat dirugikan. Coba Anda perhatikan dengan seksama. Kereta api untuk rakyat berarti kereta api terjelek. Bus untuk rakyat berarti bus terburuk. Pesawat udara untuk rakyat berarti pesawat dengan pelayanan buruk dan jadwal yang “amburadul”. Angkutan publik yang berkaitan dengan rakyat tidak dapat terlepas dari pelayanan buruk yang seringkali membuat “emosi” naik. Aku pun bingung mengapa harus selalu seperti ini.
Perlakuan terhadap rakyat (publik) seperti ini sesungguhnya tidak dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan tujuan fundamental kita, sebagai satu kesatuan bangsa, untuk bernegara, membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar kita tertulis dengan jelas bahwa seluruh sumber daya dan kekayaan di bumi, di perut maupun di atas bumi digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Dengan sangat sadar, para pendahulu kita yang membuat bangsa ini merdeka, dan tentunya bersama rakyat memilih bentuk REPUBLIK sebagai sistem bernegara, bukan monarki ataupun kerajaan. Hal ini bisa Anda baca pada Undang-Undang Dasar 1945 kita. Sedih rasanya jika ada warga negara RI yang tidak tahu hal ini.
Dengan memilih bentuk republik, negara ini meletakkan kemaslahatan rakyat (publik) di atas segala-galanya. Namun dalam praktiknya, yang kita lihat adalah justru sebaliknya. Rakyat yang memegang kedaulatan tertinggi, dapat dengan jelas kita lihat malah mendapatkan pelayanan terburuk. Kepentingan umum menjadi komitmen minimalis dari para pemangku kebijakan publik. Contoh konkret adalah fakta angkutan rakyat yang dipertontonkan setiap lebaran. Setiap tahun kita dapat melihatnya di berbagai media informasi. Aku yakin Anda dibuat menangis dengan tontonan tersebut. Hampir di setiap kereta api kelas ekonomi, yang identik dengan kereta api rakyat, pasti tidak lepas dari suasana “crowded” dan rawan kecelakaan. Tidak jarang juga kita melihat banyak korban jiwa setiap tahun akibat kereta api yang terbalik akibat kelebihan muatan atau sudah tidak layak pakai.
Bila kita konsisten dengan semangat REPUBLIK, seharusnya pada musim lebaran seperti ini rakyat dapat naik kereta api tanpa berdesak-desakan dan menikmati tempat duduk. Toilet pun bersih dengan air yang cukup tersedia. Sehingga setelah sampai tempat tujuan, rakyat dapat berpikir bahwa mereka telah mendapatkan pelayanan terbaik. Tidak ada lagi kecelakaan akibat “over” muatan, ataupun tindak kejahatan akibat suasana yang sangat “crowded” dan berdesak-desakan. Akhirnya rakyat bangga hidup dalam negara dengan sistem republik ini. Ah, indahnya.
Dalam kenyataan, setiap kali pikiran ini diutarakan, para penyelenggara menilai bahwa ini adalah pikiran utopis, yang sama sekali tidak dapat terlaksana. Uang selalu menjadi alasan di balik peleyanan publik yang buruk ini. Padahal yang terjadi adalag bukan persoalan uang semata, tetapi masalah komitmen dari seluruh elemen penyelenggara negara. Setelah lebih dari setengah abad merdeka, republik ini masih mengkhianati jiwa republik, dimana kepentingan publik/rakyat ditaruh atau diprioritaskan di urutan paling atas. Hal ini bukan karena negara ini miskin uang, tetapi karena negara ini miskin komitmen pada kemakmuran rakyat. Semoga lambat laun, para penyelenggara negara ini seluruhnya sadar bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi di negara republik ini dan mau menempatkan kepentingan publik di urutan pertama.
Sepertinya cukup celotehku hari ini tentang kehidupan di republik ini. Jika Anda memiliki pemikiran yang sama, maka ungkapkanlah, baik melalui lisan maupun tulisan. Jangan dipendam. Mari kita tetap berbagi pengalaman dan pemikiran. Apa saja. Nuwun.
Lebaran dan Pasca Lebaranku

Halo semuanya. Lama sekali rasanya blogku ini tidak ku”sentuh”. Karena masih bernuansa Idul Fitri 1429 H, izinkan aku mengucapkan minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Mohon maafkan segala kesalahanku baik yang secara sengaja aku perbuat maupun tidak. Lebaran di rumah kali ini tidak terlalu “meriah” menurutku. Aku tidak merasa “menang” dan kembali fitri. Tidak ada yang spesial. Hanya rutinitas tahunan belaka. Mungkin hal ini disebabkan karena aku baru saja sembuh dari gejala tipes yang “menyerang”ku. Selama kurang lebih dua minggu aku “dihinggapi” oleh penyakit ini. Bahkan aku terpaksa tidak berpuasa selama empat hari akibat sakit yang menderaku. Huh…
Setelah shalat Ied di masjid, aku kembali ke rumah dan bersiap-siap untuk salam-salaman dengan keluarga dan tetangga-tetangga di sekitar rumahku. Setelah acara “maaf-maafan” di rumah selesai, aku langsung bertandang ke rumah pakdhe di belakang rumah dan melakukan “ritual” yang sama seperti di rumah tadi. Banyak juga tetangga-tetangga yang berkunjung ke rumah pakdheku ini. Mau tidak mau aku juga harus bersalam-salaman dengan mereka. Niatku untuk “mengitari” satu kampung akhirnya aku urungkan. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tidak harus melakukan “ritual” keliling kampung dan hinggap dari satu rumah ke rumah yang lain untuk “salam-salaman”.
Setelah hampir setengah jam di tempat pakdhe, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Ternyata banyak juga tetangga-tetangga yang berkunjung ke rumahku. Daripada aku harus keluar rumah dan membuang banyak tenaga, lebih baik aku tetap di rumah dan melayani tamu yang datang bersama kedua orang tuaku. Mengingat juga kondisiku yang tidak begitu “fit” pasca sakit kemarin, akhirnya kedua orang tuaku tidak berkomentar sama sekali. He3x.
Kalau tidak ada “ritual” tahunan berupa reuni SD dan SMA, mungkin aku sudah sangat jenuh di rumah, karena dua hari setelah lebaran aku menghabiskan banyak waktuku untuk bermain PES 6 bersama adik-adikku di rumah. Selebihnya aku gunakan untuk mengunjungi teman-teman SDku dan teman-teman bermainku dulu. yang kebanyakan telah bekerja dan menikah. Walaupun ada perasaan bahagia saat bertemu teman lama, tetapi aku tidak terlalu menikmati obrolan demi obrolan yang aku lewati bersama mereka. Aku hanya berusaha menjadi lawan bicara yang baik dan lebih banyak mendengar pengalaman masing-masing dari mereka. Aku hanya “mengimbangi”nya dengan komentar-komentar ringan dan sederhana. Hanya itu.
Jumat malam, tepatnya ba’da maghrib reuni SD dilaksanakan. Kali ini reuni dilaksanakan di rumah Umar Rojali, sekitar 3 km dari rumahku. Aku tidak terlalu khawatir, karena aku dijemput oleh temanku. Beginilah enaknya kalau menjadi panitia dalam sebuah acara, jadi dianggap cukup penting. Acaranya cukup meriah walau hanya sekitar 25 orang yang hadir. Jumlah total satu kelas seharusnya ada 38 orang. Ada games dan “baker-bakaran” jagung. Ini yang menarik. Karena aku tidak terlalu pandai dalam membuat jagung bakar, akhirnya aku meminta tolong pada temanku untuk membakarkan jagungku. Lumayan enak walaupun agak sedikit gosong. Acara reuni SD kali ini berlangsung hingga pukul 24.00. sampai di rumah aku langsung tidur dengan pulas. Untung saja aku sudah shalat Isha sebelum acara reuni dilaksanakan tadi. Tanpa melepas jaket yang aku pakai, aku langsung “terkapar” di sofa depan. Bahkan sepertinya aku lupa mencuci kakiku. Ah, biarlah.
Pagi harinya aku langsung bersiap-siap untuk menghadiri acara reuni SMA di rumah Dhiki Supodo (Jurusan Teknik Mesin’04 UGM), temanku yang mengalami kecelakaan dan pernah terkapar tanpa daya di rumah sakit selama lebih dari satu bulan di Surabaya kemarin. Untung saja aku dijemput Esti Purwaningsih (Jurusan Pend. Bahasa Inggris’04 UNY) kali ini, jadi ada teman ngobrol selama menuju SMAN 1 Kebumen, yang harus aku tempuh sepanjang 8 km dari rumahku. Setelah sampai SMA aku langsung “menaruh” Esti dan langsung pergi ke Kuthowinangun untuk menjemput temanku, Septiana Rachmawati (Jurusan Farmasi’04 UAD). Dia mengancam tidak akan berangkat reuni kalau tidak dijemput. Entah apa yang ia pikirkan saat mengancamku tadi. Karena aku diberi tanggungjawab oleh Damar Kuntoro (Jurusan Teknik Industri’04 ITB) untuk memastikan semua teman-teman berangkat, mau tidak mau aku harus menjemput Septiana yang “manja” ini.
Alhamdulillah banyak yang bisa hadir dalam reuni tahun ini. Hanya sedikit yang absen dan memutuskan tidak berangkat. Dengan alasan yang bervariasi, aku tolerir keputusan mereka, karena mereka telah cukup dewasa dan mampu untuk memprioritaskan sesuatu. Aku bersama rombongan terakhir sampai ke rumah Dhiki sekitar pukul 11.00, dan langsung disambut oleh teman-teman yang sampai lebih dulu. Aku melihat banyak sekali wajah baru pada reuni kali ini. Wajah-wajah yang jarang aku lihat sebelumnya. Acaranya sangat meriah, karena didukung oleh pendanaan yang cukup besar, yaitu hampir 1,1 juta rupiah. Meningkat cukup drastis dari tahun lalu yang hanya memakan dana sekitar 600 ribu rupiah saja. Hampir dua kali lipat. Dana kali ini berasal dari iuran temanku, lima orang lulusan STAN dan berpenghasilan cukup besar. Semoga amal mereka dibalas dengan sesuatu yang lebih besar nantinya oleh Allah SWT. Amiin.
Karena ada seorang teman kami yang hendak melangsungkan pernikahan pada tanggal 19 September 2008, yaitu Eka Puspitasari (Jurusan Kimia’04 UGM), maka kami memutuskan untuk mem-fix-kan rencana pembuatan piala bergilir nikah yang diadakan oleh komunitas kecil kelas kami. Dengan anggota 60 orang, banyak sekali pendapat dan masukan untuk tim pembuat piala sehingga pembahasannya memakan waktu lebih dari satu jam. Diharapkan, “mainan” kecil ini dapat mempererat tali silaturahim dan rasa persaudaraan antar anggota komunitas alumnus kelas kami. Rencananya di piala tersebut ditulis nama-nama orang yang menikah, urut dari yang menikah pertama kali hingga yang terkahir. Akan ada 60 nama nantinya. Tidak bisa aku bayangkan akan seperti apa piala bergilir ini nantinya.
Setelah membahas masalah piala bergilir nikah, sesi yang dinanti pun tiba, yaitu “Barbeqiu Party”, alias “bakar-bakaran” daging. Lagi-lagi aku tidak ahli dalam hal “bakar-bakaran” seperti ini, jadi mau tidak mau aku menunggu yang sudah matang. Tidak sampai 30 menit aku dapat menyantap hidangan yang tersedia, yaitu nasi dengan lauk daging bakar tadi. Setelah kenyang, aku kembali ngobrol dengan teman-teman yang jarang aku temui. Ah, senangnya.
Acara berakhir pada pukul 14.30, dengan sebelumnya ditutup oleh “jumpa pers” oleh calon pengantin, Eka Puspitasari bersama calon suaminya. Yang tidak aku duga sebelumnya, si Damar “Ireng” bertanya kepada Eka tentang keputusannya menikah muda dan dilanjutkan dengan mempublikasikan “propaganda”ku di depan umum, yaitu “Let’s Start at 25th” atau “Mari Menikah Pada Umur 25 tahun/lebih”. Aku merasa diuntungkan karena tidak harus mempublikasikan “propaganda” ini dengan susah payah lagi.
Setelah berpamitan pada pemilik rumah, aku dan Esti langsung melesat ke SMAN 1 Kebumen. Setelah shalat ashar dan sedikit mengenang masa lalu, kami langsung pulang menuju rumah dan langsung istirahat. Sungguh hari yang melelahkan. Ah, cukup untuk hari ini. Mari kita tetap berbagi pengalaman. Apa saja. Nuwun.