.: Selamat Datang :. [bagian 'pribadi' dari http://samsul-arifin.math.web.id]

[bagian "pribadi" dari http://samsul-arifin.math.web.id/]

Arsip untuk September 2008

Sedikit Tentang Ipin Kecil

dengan 4 komentar

aku2

Setelah tilawah beberapa lembar dan bingung mau berbuat apa, aku pikir akan lebih bermanfaat kalau aku sedikit “mereview” hidupku. Aku merasa memori tentang masa kecilku semakin lama semakin “menghilang” dan memudar dari ingatanku. Lari dari diriku, tertumpuk oleh ingatan-ingatan baru yang semakin banyak. Sebelum semuanya hilang, aku ingin menulis apa yang aku ingat tentang masa kecilku. Huh, membayangkan kembali bagaimana ipin kecil tumbuh dan berkembang, adalah saat-saat yang menyenangkan. Aku ingin menyajikannya untuk Anda, dan khususnya pada diriku sendiri. Semoga Anda tidak muak membacanya.

Seingatku, kata ibuku, aku lahir di daerah Cakung, Jakarta Timur. Katanya ketuban/“ari-ari”-ku ini langsung ditanam di dekat kontrakan sederhana yang dihuni ayah-ibuku dahulu, yang sekarang telah rata dengan tanah dan menjadi jalan tol. Kasihan sekali “saudara”ku itu. Sungguh mengenaskan. “Ari-ari”-ku, temanku saat aku berada di dalam perut ibuku selama 9 bulan, kini telah menjadi bagian dari jalan raya ibu kota yang macet dan panas tersengat matahari.

Bayi ipin tumbuh dengan normal dan mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya saat itu. Walaupun tubuhnya sangat kecil, tetapi sangat sehat. Saat berumur kira-kira satu tahun, ayahku membawaku dan ibuku kembali ke kampung halaman, yaitu Kebuman. Kami tinggal cukup lama di Kebumen, yaitu sampai aku berumur sekitar 4 tahun, sampai akhirnya ayah membawa kami semua kembali ke Jakarta. Enak juga sepertinya hidup “nomaden” seperti ini.

Pertama kali, kami tinggal di daerah Sunter, Jakarta Utara. Kami tinggal di sebuah kontrakan sederhana dan cukup besar. Cukup untuk kami bertiga. Alasan ayah memilih lokasi di sini adalah karena dekat dengan tempat ia bekerja, yaitu di dalam kampus IBII (Institut Bisnis Indonesia), sebuah kampus swasta milik mantan menteri keuangan Indonesia, Kwik Kian Gie. Selang beberapa saat adikku yang pertama lahir. Anggota keluargaku bertambah satu. Setelah satu tahun lebih tinggal di sini, kami pindah ke daerah Pulo Nangka, Jakarta Timur. Mencari kehidupan yang sedikit lebih tenang, karena di daerah Sunter tadi, sangatlah “berisik” dan sangat tidak nyaman. “Crowded” pokoknya. Di Pulo Nangka ternyata ini ada Madratsah Ibtidaiyah (MI) Al-Kenaniyah, dan akirnya aku bersekolah di MI tersebut. Perlu Anda ketahui, di Jakarta dulu ada peraturan yang menyatakan bahwa seorang anak baru boleh masuk SD/MI setelah berumur 7 tahun. Ironis sekali. Aku sangat sedih saat tahu bahwa teman-temanku sekarang, masuk SD dulu pada usia 5 tahun. Imbasnya saat ini akulah yang tertua di program studi Matematika angkatan 2004. Yah, mungkin ini sudah takdirku.

Di MI Al-Kenaniyah ini adalah masa-masa keemasanku. Setiap akhir catur wulan, saat pembagian rapor, aku pasti mendapatkan ranking pertama. Alhamdulillah aku dapat membantu kedua orang tuaku dengan tidak pernah meminta dibelikan buku tulis, karena setiap akhir cawu (catur wulan), aku mendapatkan 1 atau 2 pak buku tulis sebagai hadiah. Senang rasanya kalau mengingat masa keemasanku ini. Kalau tidak salah aku sudah dapat membaca Alquran dengan lancar pada saat aku kelas satu akhir. Aku sangat lincah dan cepat dalam berlari. Tidak jarang juga aku berkelahi pada masa ini. Di sekolah ini aku tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman, karena teman-temanku cukup banyak di sini. Ipin kecil tumbuh dengan bahagia di sekolah ini. Ia mendapatkan apa yang ia butuhkan saat itu, yaitu kasih sayang yang cukup dari orang tua, teman yang banyak dan baik, tambah lagi prestasi di sekolah yang “abadi”.

“Jodohku” dengan MI ini hanya sekitar 4 tahun, karena saat aku menginjak kelas 4 cawu 3, aku dan keluargaku harus pindah lagi ke Kebumen. Aku langsung didaftarkan di SDN 1 Surotrunan dekat rumah. Pertama kali sekolah di SD ini, aku sangat kesulitan dalam pelajaran Bahasa Jawa, karena itu di akhir catur wulan, aku mendapatkan nilai merah pada mata pelajaran ini. Nilai merah ini adalah nilai merah pertama dan terakhir yang aku dapatkan sepanjang hidupku. Tidak akan pernah aku lupakan. Akan aku ceritakan kepada cucu-cucuku kelak.

“Masa keemasan”ku akhirnya dapat aku raih kembali di SD ini. Alhamdulillah saat menginjak kelas 5 cawu 3, akhirnya aku berhasil mendapatkan ranking pertama, dan hal ini berlanjut sampat akhir kelas 6. Perlu adaptasi satu tahun ternyata untuk kembali berprestasi di SD ini. Alhamdulillah aku juga tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan teman di SD ini. Teman-teman sepermainanku cukup banyak. Aku juga tidak menemui hambatan yang cukup berarti dalam menguasai bahasa Jawa “ngapak”, karena memang tidaklah sulit untuk dipelajari dan digunakan.

aku2

Itulah sekelumit tentang bagaimana ipin kecil tumbuh dan berkembang sebagai bocah laki-laki yang nakal, tetap patuh pada orang tua. “Fase” kehidupan ini ikut andil dalam pembentukan karakter yang aku miliki saat ini. Bahagia sekali rasanya menjadi anak-anak. Hari demi hari aku lalui dengan tertawa dan perasaan senang. Ah, semoga aku tidak berlebihan dalam menggunakan masa kecilku dulu.

Ditulis oleh arifinsamsul

September 7, 2008 pada 4:16 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Menjemput Kematian

dengan 2 komentar

aku2

Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar “lelayu” atau berita kematian. Menjelang Ramadhan 1428 H ini rektor Universitas Negeri Yogyakarta menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Tepat di hari pertama Ramadhan. Padahal malam harinya beliau sempat memberikan ceramah/khutbah sebelum shalat tarawih. Rencana Allah memang penuh rahasia. Beliau tidak sempat menikmati beribadah puasa di bulan suci ini. Aku harap aku tidak mengalami hal yang sama kelak. Semoga aku dapat selalu diizinkan bertemu dengan bulan suci penuh ampunan dan barakah ini. Amiin.

Tidak berhenti sampai di situ. Kabar “lelayu” juga kembali aku dengar pagi ini. Sesaat setelah sahur, aku mendapatkan sms dari temanku yang isinya adalah sebagai berikut : “Innalillaahi wainnailaihi raji’un. Telah meninggal dunia, ibunda teman kita, Dwi Yulianto (Teknik Mesin UGM ‘04), karena sakit, tadi jam 1an. Insya Allah akan dimakamkan nanti jam 1an siang. Semoga khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan tetap sabar”

Sesaat setelah membaca sms tersebut aku bersyukur karena Allah masih memberiku “hidup” sampai detik ini, hingga aku mampu menulis semua ini. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, ya Rabb. Kemudian aku kembali tersadar dari lamunan dan kembali ingat bahwa : MANUSIA TIDAK AKAN PERNAH LUPUT DARI KEMATIAN. Ke mana pun kita melangkah pergi, kematian selalu siap untuk “menyapa” kita dan membuat jiwa kita berpisah dengan raga kita. Banyak sekali cara untuk bertemu dengan kematian ini. Tua renta, sakit berat, kecelakaan, dibunuh, dihukum mati, dan masih banyak lagi. Ah, ada-ada saja cara kematian ini menjemput “mangsa”nya. Semoga aku meninggal dalam keadaan baik, normal, dan khusnul khotimah kelak. Izinkan aku ya Allah.

Hingga saatnya nanti, aku pasti akan dijemput oleh kematian. Entah kapanpun itu. Aku hanya tinggal menunggu, dan mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan-Nya. Dengan perasaan yang tidak pernah tahu kapan akan dijemput oleh kematian ini, seorang manusia hanya bisa berusaha agar hidupnya tidak sia-sia dan mau tidak mau berusaha mempersiapkan “bekal” untuk dibawa ke alam kubur. Apakah bekal yang dibawanya nanti cukup atau tidak untuk mempertanggungjawabkan hidunya tersebut, tidak pernah ada yang mengetahuinya.

Selama masa penantian menunggu kematian, semoga aku dapat mengumpulkan “bekal” untuk aku bawa ke kehidupan setelah dunia ini, dan aku berharap semoga bekal tersebut cukup bagiku untuk membuatku masuk ke dalam golongan orang-orang yang akan masuk surga Tuhanku kelak. Semoga aku dapat memanfaatkan dengan baik umur yang Ia berikan padaku hingga detik ini. Entah apa yang aku dapatkan kelak kalau aku membuat hidupku ini sia-sia. Semoga amal dan ibadah-ibadahku selama ini diridhoi olehNya dan membuat lebih “berat” timbangan “pahala-dosa”-ku kelak. Aku berharap semuanya tadi kapasitasnya jauh lebih banyak dari dosa-dosa yang aku lakukan, baik yang aku sadari maupun tidak.

Cukup untuk pagi ini. Mari kita hidup dengan baik dan menjadi manusia yang berguna. Di bulan suci Ramadhan ini, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan ridho Ilahi. Ya Allah, cukupkanlah umur dan waktuku di dunia ini untuk hidup sesuai dengan keinginan-Mu agar pada saatnya nanti aku siap “bertemu” denganMu. Ridhoilah semua usaha yang aku lakukan ini. Yah, usaha untuk membuatku “siap” bertatap muka denganMu. Usaha untuk menjemput kematianku.

Ditulis oleh arifinsamsul

September 7, 2008 pada 4:15 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Bocah Pendek dan Lucu

dengan 2 komentar

aku2

Tegar Rifansyah, yah itulah namanya. Seorang anak berumur 3 tahunan, berwajah cukup menawan dan terbilang “cute” untuk anak seumurnya. Dia adalah salah satu anak yang membuatku betah tinggal di rumah, dan menimbulkan rasa rindu akan suasana rumah. Betapa tidak, kalau aku pulang ke rumah dan mulai menginjakkan kaki di teras depan, dan sialnya lagi kalau suara salamku terdengar olehnya, pasti bocah laki-laki pendek ini akan segera lari menuju arahku, meninggalkan mainan yang ia pegang, dan langsung memelukku. Aku langsung “diserbu” dengan kecupan-kecupan di pipi kanan dan kiri. Bagaikan banteng yang sedang melihat kain merah saat ia “menyeruduk”-ku tadi. Dengan buas bocah ingusan itu “menyerang”ku dengan ciuman-ciuman khasnya. Setelah puas aku gendong dan “meneliti” rambutku sembari memastikan bahwa aku adalah kakaknya, dia baru mau turun dan kembali bermain. Ah, ia sangat menyayangiku ternyata.

Tak jarang aku dibuat tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita dan penuturan ibuku tentang kelakuan bocah kecil ini. Banyak sekali perbuatan-perbuatan konyol dan lucu yang dilakukan si Tegar ini. Pernah dia berlari-lari dari dapur menuju depan rumah dan akhirnya kembali ke dapur lagi dalam keadaan telanjang bulat. Hanya untuk mandi sore dia melakukan lari estafet terlebih dahulu. Entah apa yang ia pikirkan saat lari. Sepertinya ia sangat bangga memamerkan tubuhnya yang mungil itu saat ia berlari tadi. Ada rasa puas terlihat saat ia selesai berlari dan mulai dimandikan. Celotehnya pun tidak pernah absent saat siraman demi siraman air bak mandi diguyurkan ke tubuhnya. Ada saja yang ia bicarakan. Ia “meracau” semaunya. Aku hanya bisa melihatnya dan tersenyum kecil saat ia menatapku. Aku membayangkan bagaimana kelakuanku saat aku seusianya dulu. Apakah aku selucu itu? Huh, sepertinya tidak.

“Pin, enggane kae adhimu jan! esuk-esuk wis playon meng karangan. Nggolet apa kanan-kanane ya?!”.

Itulah salah satu komentar tentang bocah tengik tapi lucu itu. Pagi-pagi buta disaat kakak-kakaknya mempersiapkan diri untuk sekolah, ia malah sibuk dengan kupu-kupu liar dan sampah-sampah di kebun tersebut. Setelah puas bermain-main di kebun sebelah rumah milik tetangga, seringkali tanpa rasa bersalah, ia langsung “memlorotkan” celana pendeknya seraya berkata, “Mas, kebelet e_e!”. Hah, mau tidak mau aku harus membimbingnya menuju WC dekat kamar mandi belakang rumah. Baru setelah tahu bahwa kakak-kakaknya telah pergi ke sekolah, tampak wajah murung yang aku lihat pada dirinya. Namun uniknya, itu hanya berlangsung beberapa saat. Setelah itu ia kembali berpetualang dengan teman-teman anak tetangga sebayanya, mencari pengalaman baru di pagi yang cerah itu. Semoga pengalaman-pengalaman yang baik dan menyenangkan yang ia dapatkan setiap hari.

Hatiku seringkali menangis saat mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat aku berpamitan hendak ke Jogja untuk menuntut ilmu, bocah itu kembali bertingkah. Ia tidak ingin melepasku. Ia ingin ikut aku pergi ke Jogja. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ia berguling-guling dan menangis ingin ikut aku ke Jogja. Apakah ia sangat menyayangiku hingga tidak ingin melepas kepergianku untuk pergi dari rumah dan kuliah di Jogja? Ataukah hanya karena ia kesepian di rumah karena hanya ada dua-tiga anak, teman sebayanya di rumah. Itu pun tidak setiap hari mereka bisa bermain bersama. Setelah aku sampai kos dan membersihkan tubuh, aku langsung telepon rumah dan langsung meminta suara bocah laki-laki pendek itu. Hatiku menangis saat jawaban ibuku adalah : “Ora gelem ngomong karo kowe Pin. Asih kesuh kayane”. Oh Tuhan, jagalah laki-laki kecil dan pendek itu. Ya Allah, lindungilah bocah tengik itu. Karena dia adalah adikku. Dia adalah salah satu orang yang membuatku bertahan hidup. Orang yang berarti dalam hidupku.

Ditulis oleh arifinsamsul

September 7, 2008 pada 4:14 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.